Tampilkan postingan dengan label hillsong music. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hillsong music. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Juni 2016

Reporter Sekuler Menjelaskan Mengapa Hillsong Populer

Hillsong adalah salah satu kelompok megachurch yang paling berpengaruh di dunia dan mereka menghasilkan musik penyembahan kontemporer yang paling populer. Hillsong adalah brand yang bernilai jutaan dolar, dan para pemimpinnya mengetahui persis apa yang mereka lakukan ketika mereka menyelaraskan kekristenan ke dalam budaya pop Barat. Seorang reporter dari majalah GQ yang ultra-hip dan “metroseksual,” mendefinisikan popularitas Hillsong di sebuah laporan tentang Hillsong New York baru-baru ini. Setelah mengidentifikasi Hillsong sebagai gereja pilihan para selebritis, seperti Justin Bieber, Kendall Jenner, Selena Gomez, dan Bono, dan setelah mewawancarai orang-orang yang menghadiri Hillsong, reporter ini mengatakan: “Dan di seluruh gereja ini, inilah kisah yang diceritakan oleh jemaat dari tempat duduk mereka: bahwa akhirnya ada hamba-hamba Tuhan yang penampakannya familiar, yang menawarkan pesan-pesan yang berhubungan dengan kehidupan nyata mereka, yang menerima bahwa mereka sudah hidup cukup lama di New York sehingga tahu untuk tidak menjelekkan kaum gay, atau menyuruh wanita untuk tinggal di rumah dan mengurus anak, atau mengharapkan orang-orang muda yang brilian dan cantik-cantik untuk berpakaian sederhana dan biasa dan mengabaikan hal-hal seru kehidupan modern di sebuah kota besar. Gereja inilah dia, akhirnya, yang sungguh-sungguh berbeda” (Taffy Brodesser-Akner, “What Would Cool Jesus Do?” GQ, Dec. 17, 2015).

Laporan reporter itu, bernama Taffy, menunjukkan bahwa dia tidak memahami Injil, karena dia mengira bahwa baptisan sama dengan kelahiran kembali, namun demikian kunjungannya ke Hillsong sepertinya tidak banyak membantu dia lebih memahami theologi, karena bukan itu yang ditawarkan di Hillsong. Namun Taffy jelas paham tentang cool yang duniawi, dan dia memahami bahwa hal yang menarik dari Hillsong adalah kompromi mereka dengan budaya pop dan persetujuan mereka untuk tidak mau berkhotbah melawan hal-hal yang paling dicintai oleh orang-orang cool dunia ini. Jika Hillsong tiba-tiba mulai mengkhotbahkan pertobatan dan seluruh maksud Allah dan memproklamirkan perintah Firman Tuhan untuk memisahkan diri dari “hal-hal seru kehidupan modern di sebuah kota besar,” maka dengan segera mereka akan menjadi gereja kecil. Nasihat saya adalah untuk mulai mengkhotbahkan yang satu ini: “Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu” (Ef. 5:11). (Berita Mingguan GITS 16 Januari 2016, sumber: www.wayoflife.org)

Senin, 06 Juni 2016

Konferensi Wanita Hillsong Mendatangkan Koboi Telanjang

Berikut ini disadur dari “Hillsong NYC,” NowTheEndBegins.com, 25 Mei 2016: “Hillsong United belakangan ini begitu aktif, dalam pengertian yang negatif. Sudah beberapa tahun ini kami melaporkan berbagai kegiatan klasik Hillsong kepada anda, seperti pemimpin nyanyi yang gay, perayaan ‘Silent Night’ yang sangat kacau, yang mirip dengan night club, dan juga gambar Baphomet yang terpampang di marketing konferensi wanita mereka. Kini mereka semakin menurunkan derajat mereka. Dalam dunia yang sudah penuh dengan seks dan gambaran seks ini, gereja semestinya adalah tempat yang aman dari hal tersebut. Tetapi tidak demikian Hillsong. Ada rekaman video dari smartphone yang merekam malam penutupan Konferensi Wanita pertama Hillsong di New York City. Sungguh mengejutkan. … Adakah Yesus di dalam kekacauan ini? Jawabannya, tidak ada. Di atas panggung mimbar, apa yang terlihat? Seorang koboi yang telanjang, lalu para cheerleaders yang berpakaian minim, seorang peniru Elvis, patung Statue of Liberty yang berjenggot, beberapa orang yang memakai kostum binatang berbulu, dan tambahan lagi mereka membuat semua hadirin melambaikan bendera Amerika sambil berseru ‘USA! USA! USA!’ … Hillsong United dan berbagai jaringan mereka telah membuat kekristenan dan Alkitab menjadi bahan tertawaan dengan ‘pertunjukan’ duniawi seperti ini. Mereka seharusnya malu, tetapi sungguh menyedihkan, mereka justru bangga dengan apa yang mereka perbuat. … Ini semua mengingatkan kita akan jemaat Laodikia yang ditegur keras oleh Tuhan. Sungguh mirip dengan gambaran “Pasar Kesia-siaan” yang diceritakan oleh John Bunyan dalam buku klasiknya, Perjalanan Seorang Musafir
(Berita Mingguan GITS 4 Juni 2016, sumber: www.wayoflife.org diterjemahkan Dr. Steven Liauw)